Video Gunung Api Purba
Banyak yang merasa penasaran dan ingin tahu seperti apa kondisi di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Desa Nglanggeran, disini akan kami coba memberi sedikit gambaran lokasi dengan Video yang kami ambil sekitar bulan Juni 2009 dan mungkin dalam penyajian belum sempurna. Dan kami meminta ijin kepada pencipta dan yang mempopulerkan lagu yang kami gunakan sebagai Back Sound. Semoga dapat membantu para wisatawan untuk memberikan sedikit gambaran lokasi kami. Terimakasih……
Berikut Link Video Gunung Api Purba.
Even Rasulan (Bersih Desa) yang semakin digemari wisatawan
Tampak berbondong-bondong wisatawan luar daerah dan juga warga masyarakat desa Nglanggeran, kecamatan Patuk, kabupaten Gunungkidul pada hari Minggu kliwon 13 Desember 2009 sampai dengan Senin Legi 14 Desember 2009 di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba tepatnya di Pendopo Joglo Kalisong. Memang ada hal yang luar biasa di kedua hari tersebut di Desa Nglanggeran, hal special apakah itu??? Iya benar…. Even tahunan dari masyarakat setempat berupa even rasulan ( bersih desa).
Nampak juga beberapa wisatawan asing yang juga terpukau akan hasil kreativitas masyarakat, kebudayaan lokal dan juga kesenian yang menjadi salah satu suguhan dalam rangkaian acara tersebut. Dengan menenteng kamera tidak mau kehilangan sebuah even tahunan untuk diabadikan dalam sebuah jepretan dari para wisatawan.
Dalam rangkaian acara yang dikemas sebagai salah satu media melestarikan kebudayaan dan juga pengembangan wisata di kawasan desa tersebut juga dihadiri oleh berbagai dinas dan tamu undangan diantaranya Kepala Dinas Pariwisata DIY, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Bapak Bupati Gunungkidul, Sekretaris Daerah Kabupaten Gunungkidul, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Gunungkidul, Kepala Badan KAPEDAL Gunungkidul, Kepala Dinas Sosial DIY, Ketua Karangtaruna Kabupaten Gunungkidul, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Kepala Pusat Studi Pariwisata UGM, Bapak Camat Patuk, Bapak Kapolsek Patuk, Bapak Danramil Patuk atau yang mewakili. GKR Pembayun (Ketua karangtaruna Provinsi DIY) yang juga diundang pada saat itu berhalangan hadir karena sedang ke Singapura untuk berobat hal ini dikemukakan oleh Pak Cip yang menjadi wakil beliau dari Dinas Sosial dalam sambutannya. Baca selebihnya »
Tradisi Rasulan (Bersih Desa) Nglanggeran 2009
Akan ada yang beda dikawasan ekowisata Gunung Api Purba Desa Nglanggeran pada bulan Desember ini tepatnya pada hari Minggu 13 Desember sampai dengan Senin 14 Desember 2009. Pada hari tersebut akan diadakan sebuah acara besar di Desa Nglanggeran yaitu acara Bersih Desa atau sering disebut dengan Rasul. Kegiatan Rasul dikawasan Ekowisata Gunung Api Purba ini dilakukan secara rutinitas setiap satu tahun sekali, dan biasanya dilakukan pada bulan “Besar” (bulan jawa). Tradisi Bersih Desa ini diselenggarakan setelah Idul Adha jika menurut penanggalan Islam.
Minggu Legi dan Senin Legi adalah dua hari yang menjadi pilihan alternatife bagi Tokoh Pemangku adat dan juga sekaligus juru kunci dari lokasi Kalisong (pangkal Gunung Api Purba) untuk melakukan ritual dan perayaan bersih desa ini, dua hari tersebut akan dipilih salah satu pada bulan Besar untuk melakukan acara besar tersebut. Tradisi bersih Desa di Desa Nglanggeran dilakukan sejak nenek moyang terdahulu dan hingga kini masih tetap dilaksanakan. Tayub/Ledhek merupakan salah satu tradisi yang tidak pernah ketinggalan dalam rangkaian acara tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Mbah Budhi sesepuh pemangku adat dan juga juru kunci kalisong “ tradisi seko leluhur ki kudu diuri-uri ora oleh ditinggalke seko jamane nenek moyang nganti saiki kudu tetep dijogo, sedino sak durunge rasulan belik kalisong kudu dikuras lan diresiki ora oleh ora, nak ora dilakoni urung iso dijenengke rasul”. Maksudnya adalah tradisi dari nenek moyang harus tetap dijaga dan tidak boleh ditinggalkan dan sehari sebelum Acara Rasul (acara Tayuban) harus menguras/membersihkan salah satu sumber (sumber kalisong) yang berada dipangkal Gunung Api Purba. Dalam melakukannya juga dilakukan ritual oleh juru kunci dan pemangku adat, dan hal tersebut harus dilakukan dan belum dianggap rasul/bersih desa jika tidak dilaksanakan.
Namun ada yang beda setidaknya setahun yang lalu saat menyelenggarakan acara bersih desa di Desa Nglanggeran, sebuah organisasi pemuda yang bernama “Karangtaruna Bukit Putra Mandiri” di desa ini yang mereka beranggotakan pemuda-pemudi yang juga ingin melestarikan tradisi, kebudayaan dan juga mengangkat potensi kawasan ekowisata Gunung Api Purba membuat ide adanya “Kirab Budaya” yang diikuti oleh seluruh masyarakat. Dan acara pertama kali pada tahun kemarin berjalan seukses dan menarik minat masyarakat setempat maupun masyarakat luar daerah. Munculah kepercayaan dari pemerintah desa dan juga tokoh masyarakat kepada karangtaruna untuk mengemas acara bersih desa pada tahun sekarang (Desember 2009).
Desa Nglanggeran masuk Nominasi dalam Lomba Desa Wisata se-DIY
Dinas Pariwisata DIY menyelenggarakan lomba Desa Wisata yang diikuti oleh empat kabupaten dan satu kota yaitu kabupaten Gunungkidul, Bantul, Sleman, Kulon Progo dan satu kota jogja (Kampung Dipowinatan). Lomba desa wisata se provinsi DIY ini diikuti oleh 13 desa yang diajukan oleh masing-masing kabupaten dan kota. Tim juri penilaian lomba desa wisata tingkat propinsi DIY yang terdiri dari Yusuf Sudadi, Joko Purwanggono, Kristyo Bintoro, Joko Kuntoro dan Pipo Arrochmanuri melakukan penilaian secara maraton sejak tanggal 9 hingga 13 November 2009 silam di 13 desa wisata se propinsi DIY. Adapun aspek-aspek penilaian yang dilakukan meliputi potensi, aktivitas, SDM dan lembaga kegiatan lokal, dukungan masyarakat dan prasarana penunjang.
Desa Nglanggeran adalah salah satu desa wisata yang ikut maju mengikuti lomba tersebut selain Desa Bobung dan Desa Mojo yang didelegasikan dari kabupaten Gunungkidul. Masih terdapat sepuluh desa lain dari kabupaten dan kota selain dari Kabupaten Gunung Kidul diantaranya Desa Pentingsari, Pagerharjo, Sidoakur, Krebet, Kelor, Sorowulan, Sendangsari, Kebonagung, Desa Brayut dan Kampung Dipowinatan. Dari masing-masing desa yang mengikuti lomba desa wisata tersebut menurut ketua Tim Juri Yusuf Sudadi memiliki ciri khas keunikan-keunikan dan juga potensi yang sangat menonjol yang memiliki daya tarik khusus bagi wisatawan.
Galeri Kirab Budaya Rasulan
Masyarakat Desa Nglanggeran masih kental dalam kehidupan bermasyarakat dan kegotong-royongannya, selain itu juga masih melestarikan kebudayaan lokal. berikut galeri dari kegiatan tahunan berupa Kirab Budaya Rasulan yang dimana masing-masing kelompok masyarakat membuat gunungan berupa hasil pertaniannya yang dibawa ke Sumber Kalisong (Pangkal Gunung Api Purba) untuk dilakukan ritual dilokasi tersebut yaitu do’a bersama. Setelah melakukan ritual maka akan dipentaskan masing-masing kesenian dari kelompok masyarakat yang diikuti oleh kalangan pelajar, petani, pegawai, PNS, maupun dari pedagang, dll. Semuanya membuat suatu kesenian sendiri-sendiri kemudian ditampilkan di halaman pendopo Joglo kalisong dan disaksikan oleh masyarakat umum maupun wisatawan yang hadir pada saat itu. Kirab Budaya Rasulan ini dilakukan setiap tahunnya yaitu pada Bulan Besar (bulan jawa), dan harinya ada dua alternatif yaitu pada hari Minggu legi dan hari Senin Legi tergantung kesepakatan dan ketentuan dari tokoh masyarakat dan warga. Sehingga disini untuk tanggal dan hari secara tanggal nasional belum pasti.
Berikut sekilas gambaran tentang Kirab Budaya Rasulan Desa Nglanggeran

Gunungan Sayuran diarak masyarakat

Gunungan Nasi+Ingkung Ayam

Kesenian Kethek Ogleng Masyarakat Nglanggeran

Atraksi Reog Masyarakat Nglanggeran

Keakraban dan Suka Cita Masyarakat saat Pementasan Kesenian

Prosesi Acara didepan Pintu Masuk Pendopo Kalisong
Desa Nglanggeran dijadikan Desa Inkubator Ekonomi Kerakyatan
Konsep ekonomi kerakyatan (demokrasi ekonomi) sudah lama dipikirkan dan dikembangkan secara khusus oleh pakar ekonomi di dalam maupun di luar negeri, hal ini juga sudah dipikirkan oleh ekonom Indonesia, khususnya M. Hatta, sejak tahun 1930 yang kemudian dirumuskan ke dalam konstitusi (Pasal 33 UUD 1945). Konsep ini terus dikembangkan oleh ekonom-ekonom Indonesia dengan berbagai ragam terminologi (Mubyarto (1980), Swasono (1987), Arief (2000), dan Baswir (2002).
Namun perkembangan pemikiran ke arah ekonomi kerakyatan ini tidak diikuti perkembangan bangunan model operasionalisasi (penerapan kongkret) sistem ekonomi kerakyatan di lapangan. Sampai saat ini belum ada suatu model ideal yang menjadi ukuran penyelenggaraan ekonomi kerakyatan di tingkat lokal (desa). Ekonomi kerakyatan masih sebatas konsep yang besifat filosofis, normatif, subjektif, intuitif, dan politis. Belum tersedianya model operasional di tingkat basis ini menjadikan agenda-agenda pembangunan daerah (desa/lokal) yang berbasis ekonomi kerakyatan masih terlalu abstrak, parsial, dan tidak memiliki arah yang jelas.
Ketiadaan model operasional ekonomi kerakyatan di tingkat lokal (desa) menjadi masalah di tengah masih kukuhnya ketimpangan dan ketidakadilan sosial-ekonomi mulai dari tingkat lokal sampai dengan nasional di Indonesia dewasa ini. Struktur ekonomi lokal (desa) masih banyak yang didominasi kelompok perantara (tengkulak dan rentenir), elit desa, elit pemerintahan di atasnya, ataupun perusahaan besar. Masalah utama yang masih dihadapi petani desa adalah ketidakadilan dalam kepemilikan dan penguasaan sumber-sumber agraria yang notabene milik rakyat, serta perampasan hak-hak hidup petani. Sebanyak 70% dari jumlah petani hanya menguasai dan memiliki tanah pertanian yang sangat sempit dan tidak mempunyai tanah (buruh tani).
Sampai saat ini belum terdapat model pemberdayaan ekonomi masyarakat desa di sekitar hutan yang komprehensif, meliputi ranah produksi, distribusi, dan pengelolaan faktor-faktor produksi, dan berbasis pada keswadayaan dan interkoneksi pelaku ekonomi antar desa yang dapat terhimpun ke dalam suatu masyarakat yang berjejaring (networking society). Ketiadaan model operasional sistem ekonomi kerakyatan ini berakibat pada berbagai upaya pemberdayaan masyarakat di desa –termasuk juga yang berada di wilayah sekitar hutan- di Indonesia berlangsung secara parsial, tidak sistematis, dan saling tumpang-tindih, Kondisi ini telah mengurangi efektifitas berbagai program tersebut dalam membangun sistem (tatanan) ekonomi yang dapat memposisikan masyarakat desa sebagai pelaku utama dalam kegiatan ekonomi di perdesaan. Akibatkan tatanan ekonomi desa yang akan makin timpang karena terus terjebak pada sistem kapitalisme global, di mana yang menjadi rujukan bukannya konstitusi melainkan kepentingan korporasi.
Dengan alasan itulah maka dari Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melakukan penelitian yang bertujuan:
Untuk mengkaji kondisi, potensi, permasalahan, model operasional, dan strategi (skenario) inkubator ekonomi kerakyatan di desa miskin sekitar hutan baik di ranah produksi, distribusi, maupun konsumsi, melalui studi kasus utamanya di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, dan mencoba mengembangkannya melalui intervensi langsung Tim Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan dalam kegiatan implementasi model operasional.
Trans TV Tertarik Gunung Api Purba

Shoting Harmoni Alam tampak dari Selatan
Pemandangan alami, sederetan bebatuan besar yang menjadi satu baris membujur dari barat ketimur hampir 5 KM, udara yang masih sejuk tidak tercemari oleh asap kendaraan maupun polusi udara lain akan kita jumpai di Lokasi wisata alam Gunung Api Purba Desa Nglanggeran. Jalan untuk mengakses kesana juga sangat mudah dan terjangkau dengan cepat. Jika kita berada di Jogjakarta hanya dengan perjalanan kira-kira satu jam kita sudah bisa sampai dilokasi ini. Untuk sampai Puncak Gunung ini bagi para pemuda cukup berjalan kaki menelusuri jalan setapak selama 2 jam, untuk usia tua atau anak-anak dimungkinkan bisa sampai 3 jam untuk bisa menginjakkan kaki di Puncak Gunung Gedhe dengan berjalan santai.
Hal tersebutlah yang menarik dari berbagai media elektronik maupun para Fotografer untuk mendapatkan baground alami yang sangat indah guna melakukan kegiatan-kegiatan yang mereka inginkan. Semisal saja Media TV Trans TV, media televisi swasta ini juga tertarik akan keindahan dan keunikan dari Gunung Api Purba Desa Nglanggeran. Terbukti dengan dilakukannya Shoting salah satu program acara televisi di Trans TV yaitu Harmoni Alam. Acara Harmoni Alam ini merupakan salah satu program acara yang mengutamakan pemandangan alam yang indah sebagai baground acara memasak dialam bebas. Hal tersebut sangat sesuai dengan keadaan alam dan bentuk relief Gunung Api Purba Desa Nglanggeran. Selain pemandangan alam dan pepohonan yang eksotik, di Gunung/bukit ini akan kita liat bentuk-bentuk batu yang menjulang tinggi dan ada juga yang menyerupai tokoh pewayangan.

Shoting Diatas Gunung Api Purba
Team Media Trans TV Harmoni Alam melakukan survey tanggal 8 September 2009, setelah melihat langsung keindahan dan juga akses jalan yang mudah untuk melakukan Shoting maka melakukan kerjasama dengan pengelola (Karang Taruna Bukit Putra Mandiri) melakukan koordinasi-koordinasi dan melakukan realisasi Shoting selama 2 hari pada tanggal 9&11 September 2009, Alhamdulillah acara berjalan lancar walau dilakukan saat puasa (bulan Ramadhan).
Anggota Team Trans TV yang masih muda-muda, bersahabat dan sangat mudah bergaul dengan anggota-anggota karang taruna Bukit Putra Mandiri menjadikan kegiatan proses Shoting tidak terasa berat walau dalam keadaan puasa harus berpindah-pindah lokasi naik turun gunung. Banyak yang dapat kami ambil pelajaran setelah melakukan kerjasama dengan Team dari Trans TV ini diantaranya adalah kekompakan team, menjalani kegiatan dengan sungguh-sungguh walau santai tapi berjalan baik sesuai target. Hal itulah yang patut kami contoh dan kembangkan di dalam organisasi Karang Taruna Bukit Putra Mandiri.
Untuk acara harmoni alam biasanya ditayangkan setiap hari Minggu di Trans TV jam 07.30, acaranya sangat asyik. Sampai saat ini (9 Oktober 2009) hasil Shoting blm ditayangkan, silakan menyaksikan hasilnya mungkin pada Minggu-minggu depan akan ditayangkan. (Film sudah ditayangkan tgl 18 Oktober 2008 pkl 07.30-08.00)
Jalur Wisata di Bukit Nglanggeran
Akhir-akhir ini Lokasi Desa Nglanggeran dijadikan sebagai salah satu tempat untuk penelitian dari berbagai mahasiswa, dosen, dan peneliti lainnya. Ada yang fokus pada hutannya (hutan rakyat) yang pernah menjadi juara 2 Tingkat Nasional, kemudian perekonomian masyarakatnya, pertaniannya, juga tentang Wisata alammnya. Biasanya seorang peneliti itu menghubungi pemerintah desa setempat, karang taruna dan juga bisa langsung kepada petani dan masyarakat.
Pada suatu ketika ada seorang Mahasiswa Kehutanan UGM yang datang menemui Bapak Wagiran untuk melakukan penelitian di desa Nglanggeran, kemudian berkenalan dengan saya dan karang taruna Bukit Putra Mandiri. Namanya Mas Makmun, ternyata beliau aktif dalam semacam Study Club yang peduli pada lingkungan dan hal tersebut sangat cocok dengan Lokasi Wisata kami serta kegiatan Karang Taruna Bukit Putra Mandiri yang selalu peduli lingkungan. LISIKAL (Lingkar Study Kehutanan dan Lingkungan) adalah nama kelompok tersebut. Bersama Karang Taruna Bukit Putra Mandiri desa nglanggeran sekelompok mahasiswa ini melakukan pengamatan dan membuat tulisan tentang jalur pemanduan wisata di Bukit Nglanggeran. Seperti inilah hasil tulisan yang dapat kami hasilkan :

Jalur Pemanduan
Obyek Wisata Puncak Gunung Merapi Purba yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, lebih tepatnya lagi di Desa Nglanggran ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan obyek wisata lain di jogja. Sesuatu yang berbeda ini dapat terlihat dari adanya sekumpulan bukit-bukit yang menjulang tinggi hanya dalam suatu kawasan saja dan tidak terdapat pada kawasan lain di desa itu. Lebih uniknya, lagi bukit-bukit tersebut bukanlah batuan kars yang sewajarnya terdapat di kawasan Gunung Kidul, tetapi “batuan tua” yang terbentuk akibat aktivitas gunung berapi yang terjadi selama jutaan tahun lamanya. Dan itu yang menyebabkan mengapa Desa Nglanggran merupakan desa yang sangat subur sehingga apa saja yang ditanam disana mampu tumbuh dengan baik. Tak bisa dipungkiri lagi sampai saat ini ada 19 mata air yang mampu mengaliri seluruh lahan pertanian disana. Bukit-bukit yang menjulang inilah yang biasanya dijadikan obyek Wisata Minat Khusus untuk climbing, dan itu merupakan obyek wisata yang tak kalah menariknya . Hal lain yang mendukung daya tarik wisatawan adalah sejarah dan budaya masyarakat masih kental dengan adat “kejawen”. Ritual-ritual keramat masih sering dilakukan oleh masyarakat sekitar. Kegiatan ini dilakukan di goa-goa yang dianggap keramat oleh masyarakat desa Nglanggran. Selain untuk “nuwun sewu” untuk keselamatan dan keberkahan warga desa, kegiatan ritual juga dilakukan untuk menyambut datangnya bulan –bulan sacral bagi umat islam. Seperti Rosulan, Syuro, dll. Atraksi-atraksi alam dan budaya inilah yang menjadi nilai tambah bagi pengembangan Desa Wisata Nglanggeran kedepan.

Lokasi Jalur Bagi Pemuda
Potensi Wisata di Bukit Nglanggeran bagian barat
- Lokasi ini oleh masyarakat sekitar disebut Song Gudel ( Kandang Anak Kebo ), karena dilokasi tersebut terdapat batuan besar yang “disonggo” batuan yang lebih kecil dan membentuk seperti goa, yang menyerupai kandang. Pemandangan sekitar lokasi berupa gundukan batuan besar dan ada variasi vegetasi disekitarnya, seperti sengon dan akasia. Dari lokasi ini menuju lokasi selanjutnya yaitu Zona Senthong kurang lebih memakan waktu 3-5 menit.
- Lokasi yang kedua disebut Zona Senthong (celah dua bukit), pada lokasi ini wisatawan akan disuguhkan dengan himpitan dua tebing yang harus dilalui agar sampai ke lokasi selanjutnya. Dilokasi in wisatawan turut diuji, karena jarak antara celah awal sampai dengan jarak celah akhir cukup jauh kurang lebih 50m dan harus terus merayap. Baca selebihnya »
Cahaya di Puncak Gunung Nglanggeran

- Cahaya Dipuncak Gunung Nglanggeran
Keberadaan Wisata Alam Gunung Api Purba desa Nglanggeran hanya belum diketahui saja oleh masyarakat luas, namun dengan adanya beberapa media yang meliput maupun mempublikasikan Keindahan alami berselimut misteri yang ada di Gunung Nglanggeran ini sekarang mulai dikenal.
Seperti halnya setelah wartawan Kompas “mbak Mawar Kusuma Wulan dan mas Abe“ yang telah meliput dan di cetak media kompas menjadikan keberadaan wisata yang masih alami ini dikenal oleh masyarakat umum. Berikut adalah isi dari tulisan mbak Mawar Kusuma Wulan dan hasil jepretan foto dari mas Abe.
KOMPAS.com — Gunung Nglanggeran menawarkan sensasi pendakian malam bertabur cahaya. Dengan jarak tempuh pendakian lebih kurang dua jam, wisatawan bisa menapaki puncak tertinggi gunung api purba itu. Tak hanya keindahan alam, kenangan tak terlupakan sesungguhnya terletak pada suguhan keramahan warga sekitar.
Mungkin hanya di gunung api purba di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, ini para pendaki benar-benar ”dimanjakan”. Setelah lelah menapaki bongkahan batu jenis breksi, wisatawan bisa bersantai sembari menikmati sajian makan pagi, siang, atau malam dari penduduk sekitar.
Asalkan sudah pesan sebelum naik gunung, warga siap mengantar pesanan makanan hingga ke ketinggian 700 meter di atas permukaan laut itu. Harga aneka menu makanan pun cukup mencengangkan karena murahnya. Nasi rames yang diantar dengan peluh bercucuran itu hanya Rp 3.000 per bungkus.
Ditemani pemuda karang taruna Bukit Putra Mandiri dari Desa Nglanggeran, Kompas mendaki Gunung Nglanggeran yang pernah aktif 70 juta tahun lalu itu pada pertengahan Juli lalu, keduanya pada malam hari. Jika ingin menyaksikan puncak keindahan Gunung Nglanggeran, pendakian malam memang menjadi satu-satunya pilihan.
Berjarak tempuh 22 kilometer dari Kota Wonosari, kawasan Gunung Nglanggeran, tersusun dari material vulkanik tua. Gunung tersebut diperkirakan pernah aktif pada 70 juta tahun lalu.
Ceruk
Berbeda dari pendakian gunung lainnya, kami tak perlu membawa tenda. Di gunung yang seluruh tubuhnya berupa batuan keras ini terdapat banyak sekali ceruk batuan yang biasa digunakan sebagai tempat istirahat saat mendaki. Ceruk batuan ini bahkan sanggup melindungi dari kencangnya terpaan angin ataupun hujan.
Gunung Nglanggeran memiliki beberapa alternatif jalur pendakian dengan berbagai tingkat kesulitan. Rombongan kami mencoba jalur yang tingkat kesulitannya tergolong sedang. Memanfaatkan bantuan pemuda karang taruna sebagai pemandu pendakian menjadi pilihan terbaik bagi pendaki pemula karena gunung ini memiliki jurang dan lembah cukup dalam.
Menapaki batuan dengan kemiringan 45 derajat sepanjang 500 meter, kami mulai berjumpa dengan batuan landai pertama yang dinamai Latar Gede. Di Latar Gede ini, kami menikmati pemandangan terbenamnya matahari. Dari batuan tempat kami duduk, Gunung Merapi terlihat anggun dalam selimut cahaya jingga pada senja hari.
Seiring hadirnya kegelapan, kami pun mulai mengandalkan penerangan cahaya senter. Bagian tersulit sekaligus menegangkan adalah ketika kami berjumpa dengan celah di antara dua batuan gunung setinggi lebih dari 100 meter. Celah sempit yang hanya muat dilewati satu orang ini dikenal dengan julukan Goa Jepang.
Kami harus merambat perlahan di antara dua celah batuan ini. Jika tidak ada bantuan berupa goresan tapak-tapak kaki pada dinding batuan, kami tak mungkin bisa menembus celah. Tapak-tapak tersebut, menurut pemandu kami, Triyanto (28) dan Suhardiman (33), merupakan buatan zaman Jepang. Jepang yang dikejar tentara Sekutu pada Perang Dunia II memilih bersembunyi di antara ceruk batuan Gunung Api Purba Nglanggeran.
28 mata air
Gunung Nglanggeran memang cocok sebagai tempat persembunyian karena memiliki lebih dari 28 mata air. Tepat di samping Goa Jepang, terdapat sumber mata air yang tak pernah kering sepanjang masa. Warga meyakini sumber berupa rembesan air itu berasal dari telaga mistis yang dijuluki Telaga Wungu. Konon, hanya orang berhati bersih yang mampu melihat keberadaan telaga itu. Baca selebihnya »






Penulis merupakan salah satu anak bangsa yang masih belajar menimba Ilmu dari berbagai pengalaman dan meja pendidikan. Dilahirkan di tengah-tengah masyarakat pedesaan yang masih kental dengan kegotongroyongan dan saling menghormati dan menghargai menjadi salah satu bekal kepribadian luhur yang melekat pada diri penulis. Mengenyam dunia pendidikan pertama kali di SDN Nglanggeran yang berada sekitar 500 meter dari rumah, dilanjutkan STLP N 4 Patuk kira-kira berjarak 3 KM dari rumah dan biasa ditempuh dengan berjalan kaki setiap berangkat dan pulang sekolah. Menginjak ke Jenjang atas, penulis melanjutkan belajarnya di SMKN 2 Wonosari mengambil jurusan Teknik Mekanik Otomotif merupakan salah satu sekolah bertaraf Internasional yang mengedepankan kedisiplinan dan kepribadian. Setelah lulus tahun 2006 alhamdulillah di berikan kesempatan oleh Allah Swt dan juga diberi amanah oleh kedua orang tua untuk melanjutkan Studi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogjakarta yaitu UAD (Universitas Ahmad Dahlan) angkatan masuk tahun 2006 sampai sekarang. Harapan besar dengan segala pengalaman dan ilmu yang didapatnya bisa melakukan perubahan peningkatan daerah tempat kelahirannya menjadi salah satu Wisata Alam Unggulan di Gunungkidul karena didaerah kelahirannya tersebut terdapat potensi alam yang sangat besar yaitu Gunung Nglanggeran ( Gunung Berapi Purba ) yang sekarang oleh dinas pariwisata dan pihak-pihak lain ( investor ) juga mulai melirik.
