Cahaya di Puncak Gunung Nglanggeran

September 16, 2009 at 1:18 pm 14 komentar


Cahaya Dipuncak Gunung Nglanggeran
Cahaya Dipuncak Gunung Nglanggeran

Keberadaan Wisata Alam Gunung Api Purba desa Nglanggeran hanya belum diketahui saja oleh masyarakat luas, namun dengan adanya beberapa media yang meliput maupun mempublikasikan Keindahan alami berselimut misteri yang ada di Gunung Nglanggeran ini sekarang mulai dikenal.

Seperti halnya setelah wartawan Kompas “mbak Mawar Kusuma Wulan dan mas Abe“ yang telah meliput dan di cetak media kompas menjadikan keberadaan wisata yang masih alami ini dikenal oleh masyarakat umum. Berikut adalah isi dari tulisan mbak Mawar Kusuma Wulan dan hasil jepretan foto dari mas Abe.

KOMPAS.com — Gunung Nglanggeran menawarkan sensasi pendakian malam bertabur cahaya. Dengan jarak tempuh pendakian lebih kurang dua jam, wisatawan bisa menapaki puncak tertinggi gunung api purba itu. Tak hanya keindahan alam, kenangan tak terlupakan sesungguhnya terletak pada suguhan keramahan warga sekitar.

Mungkin hanya di gunung api purba di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, ini para pendaki benar-benar ”dimanjakan”. Setelah lelah menapaki bongkahan batu jenis breksi, wisatawan bisa bersantai sembari menikmati sajian makan pagi, siang, atau malam dari penduduk sekitar.

Asalkan sudah pesan sebelum naik gunung, warga siap mengantar pesanan makanan hingga ke ketinggian 700 meter di atas permukaan laut itu. Harga aneka menu makanan pun cukup mencengangkan karena murahnya. Nasi rames yang diantar dengan peluh bercucuran itu hanya Rp 3.000 per bungkus.

Ditemani pemuda karang taruna Bukit Putra Mandiri dari Desa Nglanggeran, Kompas mendaki Gunung Nglanggeran yang pernah aktif 70 juta tahun lalu itu pada pertengahan Juli lalu, keduanya pada malam hari. Jika ingin menyaksikan puncak keindahan Gunung Nglanggeran, pendakian malam memang menjadi satu-satunya pilihan.

Berjarak tempuh 22 kilometer dari Kota Wonosari, kawasan Gunung Nglanggeran, tersusun dari material vulkanik tua. Gunung tersebut diperkirakan pernah aktif pada 70 juta tahun lalu.

Ceruk

Berbeda dari pendakian gunung lainnya, kami tak perlu membawa tenda. Di gunung yang seluruh tubuhnya berupa batuan keras ini terdapat banyak sekali ceruk batuan yang biasa digunakan sebagai tempat istirahat saat mendaki. Ceruk batuan ini bahkan sanggup melindungi dari kencangnya terpaan angin ataupun hujan.

Gunung Nglanggeran memiliki beberapa alternatif jalur pendakian dengan berbagai tingkat kesulitan. Rombongan kami mencoba jalur yang tingkat kesulitannya tergolong sedang. Memanfaatkan bantuan pemuda karang taruna sebagai pemandu pendakian menjadi pilihan terbaik bagi pendaki pemula karena gunung ini memiliki jurang dan lembah cukup dalam.

Menapaki batuan dengan kemiringan 45 derajat sepanjang 500 meter, kami mulai berjumpa dengan batuan landai pertama yang dinamai Latar Gede. Di Latar Gede ini, kami menikmati pemandangan terbenamnya matahari. Dari batuan tempat kami duduk, Gunung Merapi terlihat anggun dalam selimut cahaya jingga pada senja hari.

Seiring hadirnya kegelapan, kami pun mulai mengandalkan penerangan cahaya senter. Bagian tersulit sekaligus menegangkan adalah ketika kami berjumpa dengan celah di antara dua batuan gunung setinggi lebih dari 100 meter. Celah sempit yang hanya muat dilewati satu orang ini dikenal dengan julukan Goa Jepang.

Kami harus merambat perlahan di antara dua celah batuan ini. Jika tidak ada bantuan berupa goresan tapak-tapak kaki pada dinding batuan, kami tak mungkin bisa menembus celah. Tapak-tapak tersebut, menurut pemandu kami, Triyanto (28) dan Suhardiman (33), merupakan buatan zaman Jepang. Jepang yang dikejar tentara Sekutu pada Perang Dunia II memilih bersembunyi di antara ceruk batuan Gunung Api Purba Nglanggeran.

28 mata air

Gunung Nglanggeran memang cocok sebagai tempat persembunyian karena memiliki lebih dari 28 mata air. Tepat di samping Goa Jepang, terdapat sumber mata air yang tak pernah kering sepanjang masa. Warga meyakini sumber berupa rembesan air itu berasal dari telaga mistis yang dijuluki Telaga Wungu. Konon, hanya orang berhati bersih yang mampu melihat keberadaan telaga itu.

Puncak tertinggi dari Gunung Api Purba Nglanggeran segera kami jumpai setelah berjalan kaki selama lebih kurang dua jam. Puncak tersebut dijuluki Gunung Gede, berupa bongkahan batuan seluas setengah hektar. Di pucuk tertinggi itulah kami menikmati suguhan taburan cahaya. Setelah puas menikmati taburan bintang jatuh, kami menyaksikan terbitnya bulan dari arah timur.

Tak hanya taburan cahaya alam. Kerlap-kerlip cahaya kota dari Yogyakarta, Klaten, dan Surakarta pun menampakkan kecantikannya. Jurang yang mengelilingi Gunung Gede ini konon merupakan bekas kawah dari gunung api purba. Jauh dari hiruk pikuk keramaian, kami hanya sanggup mendengar deru angin, bunyi jangkrik, dan sesekali dahan yang patah karena gerakan binatang luwak.

Nama Nglanggeran, menurut Triyanto, berasal dari kata Plangaran yang bermakna setiap perilaku jahat pasti tertangkap. Gunung Nglanggeran ini tersusun dari banyak bongkahan batuan besar yang oleh warga sekitar disebut Gunung Wayang karena bentuknya menyerupai tokoh pewayangan.

Menurut kepercayaan setempat, gunung ini dijaga Ki Ongkowijoyo dan para punakawan Semar, Gareng, Petruk, serta Bagong. Tak heran, sebagian orang masih mengeramatkan gunung tersebut. Pada malam tahun baru Jawa atau Jumat Kliwon, beberapa orang memilih semedi di pucuk gunung. Di Gunung Nglanggeran ini pula warga pernah menemukan arca mirip Ken Dedes.

Setelah menikmati terbitnya matahari, pengunjung pun disuguhi hijaunya alam pegunungan. Gunung Nglanggeran juga menjadi rumah bagi aneka flora dan fauna langka, mulai dari kijang, kera, hingga cendana liar.

Sumber : Kompas.com

Entry filed under: Wisata Alam Gunung Nglanggeran. Tags: , , .

Sekilas Tempat dan Nilai Sejarah Gunung Api Purba Desa Nglanggeran Jalur Wisata di Bukit Nglanggeran

14 Komentar Add your own

  • 1. nenk ndut  |  September 30, 2009 pukul 9:05 am

    kalau bisa saya ingin tahu sejarahyglebih,awal karena nenekku orang g kidul misalnya 50jt,thyglalu

    Balas
    • 2. Sugeng Handoko  |  September 30, 2009 pukul 2:24 pm

      maksudnya untuk cerita yang mananya ya??? mas/mbak? pak/bu??…..

      Balas
  • 3. ahnku  |  Oktober 12, 2009 pukul 10:16 pm

    kita sedang ada diskusi efisiesni kertas untuk menyelamatkan hutan dan pohon di http://ahnku.wordpress.com/2009/10/11/cintai-lingkungan-dengan-efisisensi-kertas/ berikan masukan ya…(Bahasa Indonesia)

    Balas
    • 4. Sugeng Handoko  |  Oktober 12, 2009 pukul 10:20 pm

      ok…

      Balas
  • 5. Agus surahmat  |  Oktober 29, 2009 pukul 10:20 pm

    waghh yang ini yang belum saya lakukan, bermalam di gunnung dengan keindahan seperti di foto (pengen mebuktikan lansung), meliahat keindahan jogja…
    istimewa pokoknya…

    Balas
    • 6. Sugeng Handoko  |  Oktober 29, 2009 pukul 10:29 pm

      Wokey… Makasih mas Agus Kami tunggu kedatangannya, jangan lupa dibawa kamera laras Panjangnya biar bisa buat Jepret2 Kota Jogja dari Pucak…. Wahhhh…. Mantab….

      Balas
  • 7. pipo a.s.  |  November 24, 2009 pukul 11:46 am

    sayang aku belum bisa lihat semuanya ya, tapi senang bisa sampai nglanggeran. semuanya indah. . .fantastik. tadinya hanya dengar cerita dari pak birowo. bikin penasaran aja.

    Balas
    • 8. Sugeng Handoko  |  November 24, 2009 pukul 2:34 pm

      Terimakasih pak Pipo…. harapan kami ada pendampingan secara intensif kepada desa kami agar dapat berkembang dan dapat mengemas potensi yg ada menjadi salah satu pilihan wisata Unggulan di DIY….

      Balas
  • 9. Ratih triasih lestari  |  November 24, 2009 pukul 10:28 pm

    KaPaN LgE ya Bsa kSana. . BenR” KaNgEn dEh. . . Ne jGa bLUm raTiH RsA kaN GmNa rAsAnYa beRmAlaM DiaTaZ GuNuNg. . . SuAtu sAaD PaStI RaTiH KsAnA. . Di tUNgGu Ya nGlaNgGrAn kEdTgAN raTiH. . .

    Balas
  • 10. Ibu Maryati  |  Desember 6, 2009 pukul 12:59 pm

    Kami baru mengembangkan sebuah situs, di dalamnya sebahagian besar membahas wisata Jogja dan sekitarnya. Kalau diperkenankan saya ingin mengambil beberapa data dan gambar di sini (tentunya dengan menyebutkan sumbernya. Terimakasih banyak mas….

    Balas
    • 11. Sugeng Handoko  |  Desember 7, 2009 pukul 9:43 am

      Ok silakan, artikel dan Foto di Blog ini boleh diambil tapi tetep harus dicantumkan sumbernya dari kami. Suwun…

      Balas
  • 12. abdie BLANK"penapak aspal"  |  April 20, 2010 pukul 8:56 am

    tu sma pengalaman ku waktu dimandiangin (kalimantan),pda waktu kmi cri benteng belanda, kmi semua menemukan ky gitu tp anehnya , warna lmpu yg kmi lihat semua beda-beda……..

    Balas
  • 13. abdie BLANK"penapak aspal"  |  April 20, 2010 pukul 8:58 am

    balasnya difb ak aja….
    kta semua bgi pengalaman…
    mr.brokenabdie@ymail.com

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Follow IG : @GunungApiPurba

Mari Memuliakan Warisan Bumi Mensejahterakan Masyarakat

Translate

RSS Berita Terbaru

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip Tulisan

Informasi Pengunjung

  • 407,398 Pengunjung

Pengunjung Situs Ini

Dari mana saja yang Kesasar

free counters

Website

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya

Cintai Desa Kita Cintai Indonesia Kita

Hubungi YM

Liat Foto2 di FB


%d blogger menyukai ini: