Kehutanan Desa Nglanggeran

April 16, 2010 at 9:48 pm Tinggalkan komentar


Model Agroforestri yang berkembang di Desa Nglanggeran meliputi model alley cropping (pola lorong), model trees along border (pola pohon pembatas), alternate rows (pola baris), dan random mixers (pola campur).

Potensi Hutan Desa Nglanggeran

  1. Alley cropping (pola lorong), merupakan kombinasi minimal dua baris tanaman berkayu dan tanaman pertanian ditanam secara berselang-seling. luas efektif tanaman pertanian pada pola lorong akan mempengaruhi penggunaan jenis tanaman pertanian. Pada luas bidang efektif > 70% pada musim penghujan petani menanam jagung, kacang, dan ketela. Tajuk tanaman berkayu yang menutupi tanah menjadikan luas efektif bidang berolah berkurang dan biasanya petani hanya menanami ketela sebagai tanaman pencampur. Pola lorong yang tajuknya benar-benar menutupi tanah, petani menanam jenis nanas-nanasan di teras-teras lahannya. Tanaman berkayu pola lorong sebagian besar disusun oleh jenis-jenis pohon seperti mahoni (Swietenia macrophilla King.), sonokeling (Dalbergia latifolia Roxb.), dan jati (Tectona grandis Lf.). Jenis melinjo (Gnetum gnemon L.) juga ditemui dengan jumlah kecil pada tingkat tiang.
  2. Model trees along border (pola pohon pembatas), pola pohon pembatas difungsikan sebagai pembatas (tanaman sepanjang batas lahan milik) dan tanaman pertanian di tengah lahan. Penggunaan tanaman pertanian di tengah lahan tidak selalu menjadi alternatif model percampuran. Tanaman perkebunan khususnya kakao juga digunakan petani untuk mengisi bagian tengah pola pohon pembatas. Kakao ditanam secara sistematis dan sebagai pembatasnya adalah tanaman berkayu. Tanaman pembatas yang menyusun pola pohon pembatas sebagian besar disusun oleh jenis tanaman kehutanan. Jenis penyusunnya adalah mahoni, jati, sonokeling, dan akasia (Acacia auriculiformis A.Cunn.). Alternate rows (pola baris), pola baris merupakan bentuk penyusunan pola tanam setiap satu baris tanaman berkayu diselingi dengan tanaman pertanian secara bergantian. Model penyusunan tanaman pada pola baris terlihat sistematis. Tanaman pertanian yang ditanam adalah jagung dan ketela, beberapa ada yang menanam pisang sebaris dengan tanaman berkayu. Tanaman berkayu yang ditanam adalah jenis-jenis tanaman perkebunan, yaitu kakao (Teobroma cacao L.), melinjo (Gnetum gnemon L.), rambutan (Nephelium lappceum L.), cengkeh (Syzygium aromaticum L.), dan petai (Parkia spesiosa Hassk.).
  3. Random mixers (pola campur) merupakan pengaturan pola tanam antara tanaman berkayu dengan tanaman pertanian secara tidak teratur (acak). Penempatan tanaman berkayu pada suatu lahan terlihat tidak sistematis. Variasi pola campur adalah pada jenis penyusun, baik penyusun tanaman kehutanan, maupun tanaman pertanian. Tanaman pertanian pada pola campur ditanam pada sela-sela tanaman berkayu. Tanaman berkayu mendominasi penyusunan pola campur adalah jenis-jenis tanaman kehutanan dan perkebunan, yaitu mahoni, jati, sengon, melinjo, dan pete.

Jenis tanaman yang memilki indeks nilai penting (INP) tinggi pada tingkatan pohon juga dimiliki pada tingkatan pancang, misalnya jenis mahoni, jati, akasia, sengon, sonokeling, cengkeh, melinjo, petai, dan nangka. Pada perkembangannya hanya ada beberapa spesies yang tidak dipertahankan dalam peremajaannya, diantaranya jenis mundu dan kelapa karena sedikitnya permintaan pasar dan jumlah kebutuhan kelapa yang sudah tercukupi untuk saat ini. Petani memberikan masukan jensi yang sebelumnya tidak menjadi penyusun system agroforestri, yaitu jenis durian (Durio carinatus Mast.), mangga (Mangifera indica L.), salam (Syzygium polyanthumWigght.), dadap (Erythrina stricta Roxb.), dan gamal (Gliricidia sepium Jacq Kunth ex Walp.). Munculnya jenis ini pada pola agroforestri sebenarnya dilihat lebih pada aspek permintaan pasar terhadap buah durian dan mangga. Jenis dadap dan gamal berkaitan dengan fungsinya sebagai rambatan tanaman merica yang dibudidayakan. Jenis kakao pada tingkatan pohon tidak ditemukan, karena jenis ini tidak mampu tumbuh sampai tingkatan pohon dan hanya pada tingkatan tiang.
Berdasarkan penyusunnya, sejarah agroforestri Desa Nglanggeran dibedakan menjadi 3, yaitu :

  1. Agroforestri Awal, di mana model agroforestri yang pemanfaatan sumber daya dalam hal ini adalah ruang horizontal untuk tanaman semusim lebihdari 50 %. Hal ini dapat dilihat dari pengaruh pohon dalam menimbulkan daerah / bidang ternaungi, sehingga memunculkan luas bidang olah efektif. Lintasan agroforestri awal dapat dipertahankan posisinya untuk tidak bergeser ke lintasan agroforestri pertengahan melalui strategi silvikultur, yaitu dengan penjarangan, pruning, dan pollarding dehingga sepanjang pengelolaan agroforestri berada pada status awal yang aktif. Agroforestri awal dapat dilakukan percepatan untuk segera memasuki lintasan kedua melalui manajemen pohon untuk memfasilitasi pertumbuhan yang optimal dengan pengaturan ruang. Bertahannya status agroforestri awal yang aktif ditekankan karena petani pohon mempunyai luas lahan yang terbatas sehingga model agroforestri yang dikembangkan dapat menghadirkan komponen tanaman semusim sepanjang pengelolaan. Namun bagi petani pohon yang mempunyai luas lahan yang dapat diandalkan untuk produksi pertanian (missal sawah) maka lahan untuk agroforestri lebih ditekankan pada kehadiran pohon. Ketiga lintasan tersebut sangat dipengaruhi oleh tindakan silvikultur dan agronomi, sehingga pemeliharaan yang terus menerus akan menghasilkan stabilitas dan keberlanjutan agroforestri. Prinsip dari percepatan lintasan model agroforestri atau mempertahankan model agroforestri yaitu berhitung dengan resiko, artinya kalau akan menekankan komponen pohon tentu akan memberikan pengaruh pada produksi tanaman semusim dan begitu sebaliknya.
  2. Agroforestri Pertengahan, di mana model agroforestri yang berkembang sudah mengarah pada pengurangan bidang karena seiring dengan berjalannya waktu, pohon memberian pengaruh naungan sehingga luasan bidang olah 25-50 %. Kondisi ini disebabkan oleh pengaruh tajuk baris satu dengan baris kedua, sehingga bidang olah yang difungsikan untuk budidaya tanaman semusim menjadi dimanfaatkan untuk jenis pengkayuan (enrichment planting) dengan tanaman pohon.
  3. Agroforestri Lanjut, merupakan proses lanjutan dari agroforestri pertengahan sehingga model lanjutnya adalah sangat bergantung pada jenis pengkayaan, apabila jenis yang dipilih adalah jenis pohon multiguna maka bentuk agroforestri lanjutnya adalah kebun campur, sedangkan kalau menggunakan jenis pohon  maka akan mengarah pada full trees (didominasi oleh pohon) atau yang dikenal dengan hutan rakyat yang merupakan bentuk akhir dari agroforestri.

Menurut sejarah persebaran tanaman kehutanan potensi agroforestri di Desa Nglanggeran didominasi oleh tanaman jati, mahoni, akasia, sonokeling, dan sengon. Pohon jati merupakan tanaman yang nilai ekonomisnya paling tinggi.

Entry filed under: Desa Nglanggeran. Tags: , , .

Gambaran Umum Desa Nglanggeran Perjalanan Kelompok Tani Desa Nglanggeran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Follow IG : @GunungApiPurba

Mari Memuliakan Warisan Bumi Mensejahterakan Masyarakat

Translate

RSS Berita Terbaru

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip Tulisan

Informasi Pengunjung

  • 407,398 Pengunjung

Pengunjung Situs Ini

Dari mana saja yang Kesasar

free counters

Website

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya

Cintai Desa Kita Cintai Indonesia Kita

Hubungi YM

Liat Foto2 di FB


%d blogger menyukai ini: