Perjalanan Kelompok Tani Desa Nglanggeran

April 16, 2010 at 9:55 pm Tinggalkan komentar


Pada awalnya tanah di Desa Nglanggeran merupakan tanah yang gersang. Tumbuhan yang didapati adalah tumbuhan perdu seperti uceng-ucengan, kemloko, senggenan, dan jaranan. Namun demikian tanaman-tanaman lain seperti bambu, sengon jawa, sengon laut, mlanding sabrang, dan lamptoro telah dapat ditemui sebelum tahun 1960-an. Begitu pula dengan tanaman buah-buahan seperti kweni, jambu mete, rambutan, dan mangga juga telah ada.
Pada era pemerintahan Presiden Suharto, pembangunan difokuskan di bidang pertanian terutama pertanian tanaman pangan yang kemudian merambat ke bidang perkebunan dan kehutanan. Pada tahun 1962-1963 pemerintah mengadakan reboisasi dengan menggalakkan tanaman malanding sabrang. Karena kurang produktif dan tidak bernilai ekonomis tinggi maka pada tahun 1974-1975 pemerintah mengadakan gerakan penghijauan kembali menggunakan teknik terasiring tumpangsari dengan menggalakkan tanaman akasia (Akasia auricoliformis) sementara ditengahnya ditanami palawija. Teknik tumpangsari atau agroforestri yang mereka kenal saat itu adalah alleycropping. Seiring berjalannya waktu, palawija kalah bersaing dengan pertumbuhan tanaman hutan. Akhirnya pertanian dikhususkan pada lahan pertanian. Keseriusan warga Desa Nglanggeran ini mampu mengharumkan nama Desa Nglanggeran dalam berbagai lomba. Berikut prestasi lomba pertanian yang diraih masyarakat Desa Nglanggeran :
Pada tahun 1983 Desa Nglanggeran meraih juara II tingkat nasional dalam lomba LPPD.

  • Tahun 1984 berhasil meraih juara I tingkat nasional dalam perlombaan tanaman khusus cengkeh.
  • Tahun berikutnya, 1985 meraih juara II tingkat nasional dalam lomba HMT (Hijauan Makanan Ternak). Sebelum tahun 1983 jenis tanaman yang sering dibudidayakan penduduk adalah tanaman jagung, kacang tanah, dan kedelai. Setelah tahun 1983 pemerintah mendorong perkembangan desa ini dengan memberikan bibit cokelat dan cengkeh untuk dibudidayakan warga pada tahun 1983. Pada tahun 1992-1993 harga cokelat dan cengkeh menurun karena ulah spekulan dan oknum tertentu sehingga banyak tanaman cokelat dan cengkeh yang ditebang. Sejak saat itu Desa Nglanggeran menjadi desa percontohan untuk melakukan studi banding. Untuk lebih mengintensifkan kinerja petani dan memudahkan penyuluhan dan pendataan, maka dibentuklah kelompok-kelompok tani. Kelompok-kelompok tani di Desa Nglanggeran mulai dibentuk sejak tahun 90-an.

Entry filed under: Desa Nglanggeran. Tags: , , .

Kehutanan Desa Nglanggeran Perkembangan agroforestri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Follow IG : @GunungApiPurba

Mari Memuliakan Warisan Bumi Mensejahterakan Masyarakat

Translate

RSS Berita Terbaru

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip Tulisan

Informasi Pengunjung

  • 407,398 Pengunjung

Pengunjung Situs Ini

Dari mana saja yang Kesasar

free counters

Website

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya

Cintai Desa Kita Cintai Indonesia Kita

Hubungi YM

Liat Foto2 di FB


%d blogger menyukai ini: