Kunjungan dan study Banding dari Timor Laste

Juli 16, 2010 at 12:07 pm 2 komentar


Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba dan Desa Wisata Nglanggeran yang merupakan tempat wisata baru di Jogja ternyata keberadaannya sudah dikenal sampai luar negeri. Contohnya saja pada hari Kamis, 15 Juli 2010 merupakan suatu kehormatan bagi Kami Pengelola Wisata di Desa Nglanggeran yang mendapatkan kunjungan dan Study Banding dari negara Timor Laste. Kunjungan yang diikuti oleh 25 orang ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Diklat tentang kehutanan yang dilakukan selama lebih dari satu minggu di Indonesia dan salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba yang memiliki keindahan alam dan

Foto Bersama Peserta Study Banding dari Timor Laste

Sharing dan Diskusi di Pendopo Kalisong

Hutan Rakyat yang dikelola secara baik oleh warga masyarakat dan juga pemuda karang taruna. Selain itu juga ada beberapa prestasi terkait kehutanan/hutan rakyat yang diikuti oleh masyarakat dan karang taruna diantaranya:

  1. Hutan rakyat di Desa Nglanggeran meraih Juara II dalam lomba hutan rakyat di tingkat nasional yang diadakan dalam rangka Pekan Penghijauan Nasional tahun 2002, pemberian penghargaan di Bengkulu.

  2. Mendapatkan juara 1 Lomba Penghijauan Swadaya (LPS) tingkat Kabupaten tahun 2001.
  3. Menjadi tempat tujuan studi banding bagi kelompok tani hutan diluar propinsi tahun 2003.
  4. Menjadi juara I dalam rangka lomba kalpataru kategori penyelamat Lingkungan tahun 2009.
  5. Menjadi juara I Lomba Kalpataru tingkat Propinsi D.I Yogyakarta tahun 2009.
  6. Menjadi Juara II Karangtaruna berprestasi Tingkat Propinsi D.I Yogyakarta tahun 2009
  7. Kunjungan dari Anggota DPRD Kab.Landak, Kalimantan Barat tahun 2010

Beberapa hasil prestasi yang diraih merupakan kebanggaan bagi masyarakat Desa Nglanggeran dan juga Pengelola Kawasan Wisata (karang taruna) namun untuk mendapatkan semua itu tidaklah gampang dan butuh perjuangan yang tidak sebentar.. Sejarah hutan rakyat di Desa Nglanggeran sangat panjang hingga akhirnya mampu memecahkan stereotip tentang Gunung Kidul yang selalu dianggap gersang dan kurang air.

Kegiatan melihat Hutan Rakyat di Gunung Api Purba

Penjelasan Kawasan oleh Pemandu Wisata

Sejarah hutan rakyat diawali pada tahun 1962 melalui proyek reboisasi untuk menangani erosi, jenis vegetasi yang ditanam adalah jambu monyet (Anacardium occidentale) dan melanding sabrang (Acacia glauca). Tahun 1975-1976, penanaman di desa ini dikembangkan lebih lanjut melalui proyek penghijauan dari pemerintah. Pada waktu itu pemerintah memberikan bantuan berupa bibit akasia (Acacia auriculiformis), oleh masyarakat sekitar disebut dengan formis. Selain penanaman akasia, masyarakat setempat juga menanam beberapa jenis vegetasi dengan dana swadaya diantaranya sono (Dalbergia latifolia), jati (Tectona grandis) dan mahoni (Swietenia mahogani) yang pertumbuhannya lama. Masyarakat memilih jenis vegetasi tersebut dengan tujuan sebagai tabungan, dengan pertimbangan kayu tersebut jika dijual akan menghasilkan lebih banyak uang apabila dibandingkan dengan tanaman akasia ataupun sengon (Paraserianthes falcataria) yang pertumbuhannya relatif cepat.

Pohon akasia tumbuh dengan subur di desa ini dan diminati pula oleh masyarakat karena akasia mampu tumbuh cepat dan memiliki kualitas kayu yang bagus, namun di sisi lain keberadaan akasia membuat mata air menjadi cepat kering. Hal ini disebabkan akasia tidak meranggas pada musim kemarau, sehingga proses evapotranspirasi banyak menyedot air tanah.

Tahun 1982 cengkeh (Acromychia trifoliata) dan coklat mulai masuk di desa ini, saat itu cengkeh adalah komoditi yang cukup menjanjikan. Ketika harga cengkeh menurun pada awal tahun 1990-an, rambutan (Nephelium lappaceum) menjadi pilihan bagi masyarakat hingga saat ini. Menurut masyarakat dengan adanya rambutan buahnya dapat dijual, kesuburan tanah terjamin, mencegah erosi dan sumber air akan selalu ada sepanjang tahun.

Hutan rakyat di Desa Nglanggeran dikembangkan dengan pola agroforestry. Pola ini dipilih oleh masyarakat guna memaksimalkan lahan, tanaman berkayu dijadikan sebagai tanaman pokok yang akan ditebang pada jangka yang panjang, sedangkan tanaman pertanian digunakan untuk mendapatkan hasil dengan jangka yang jauh lebih pendek. Keunggulan pengelolaan hutan rakyat di desa ini adalah telah adanya kesadaran masyarakat untuk menanam, sehingga masyarakat tidak perlu lagi diperintah untuk menanam. Hal ini dilakukan masyarakat karena banyaknya manfaat yang telah mereka rasakan dengan adanya hutan rakyat. Manfaat ekonomi adalah salah satunya, selain manfaat secara ekologi yaitu terjaganya mata air dari kekeringan, serta mencegah timbulnya erosi, atau sebagai upaya konservasi tanah dan air.

Dalam rangkaian kegiatan diskusi dan sharing di Pendopo Kalisong penulis menangkap ada beberapa point penting diantaranya adalah

  1. Untuk melakukan aksi penghijauan dan Reboisasi atau menciptakan hutan rakyat hal yang mendasar merupakan kesadaran yang ditanamkan pada masing-masing orang dan masyarakat untuk cinta lingkungan. Jika hanya masalah teknis penanamannya saja hampir semua orang bisa melakukan bahkan disebutkan juga bahwa anak TK pun mampu namun untuk merawat serta menjaga menjadi hal yang sangat sulit. Oleh karena itu pembentukan dan penyadaran manusia/pelaku kegiatan menjadi hal yang pokok.

  2. Kegiatan cinta lingkungan dan adanya hutan rakyat memberikan dampak positif lain selain terlindunginya lingkungan (bumi kita) yaitu dapat dikelola dan dikemas menjadi sebuah pariwisata Lingkungan seperti yang ada di Desa Nglanggeran yaitu ada perpaduan antara kebudayaan masyarakat, keindahan alam dan adanya SDM yang mau dan bersemangat membangun daerahnya.
  3. Disampaikan oleh pengelola wisata dan juga pemerintah desa Nglanggeran bahwa bisa terwujudnya hutan rakyat saat ini merupakan adanya kerjasama yang baik dari masyarakat paling kecil, kelompok pemuda yang tergabung dalam karang taruna, kelompok tani ditingkat dusun, kemudian GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) ditingkat desa. Dari masing-masing elemen tersebut melakukan aksi-aksi cinta lingkungan serta melakukan penyadaran dari masyarakatnya. Mendapatkan pengarahan dan bimbingan dari Dinas terkait (Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Dinas Budpar Gunungkidul).

  4. Masyarakat Desa Nglanggeran dan Karang Taruna Bukit Putra Mandiri sadar bahwa “Untuk menyelamatkan Bumi tidak dapat dilakukan secara besar-besaran, harus dilaksanakan dari diri kita sendiri dan kelompok terkecil di sekitar kita”. Andai semua orang di Bumi ini sadar akan hal itu niscaya “Ibu Bumi” yang sudah rapuh ini tetap nyaman dihuni.

Demikian beberapa informasi yang dapat kami sharing, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada saudara-saudara kita yang dari Timor Laste yang melakukan kunjungan ke Desa Nglanggeran untuk melihat hutan rakyat dan kawasan Ekowisata Gunung Api Purba. Semoga komunikasi tetap terjalin dan bisa berkunjung lagi dikesempatan lain. Tetap Semangat dan Terus Berkarya…!! (Sugeng handoko)

Entry filed under: Karang Taruna Bukit Putra Mandiri. Tags: , , , , , , , .

Kegiatan Kerjabakti, rutinitas penyelamatan lingkungan Tempat Hash Baru di Jogja yang unik

2 Komentar Add your own

  • 1. jjwidiasta  |  Juli 21, 2010 pukul 11:59 am

    salut mas untuk langkah nyatanya….jaga semangat agar tak kendur dan semakin berkembang…

    Balas
    • 2. Sugeng Handoko  |  Juli 21, 2010 pukul 1:19 pm

      Oke pak terimakasih atas suportnya…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Follow IG : @GunungApiPurba

Persiapkan dan pastikan waktu longgar Sahabat Geopark untuk 7 Desember 2016. Akan ada penampilan "Gunung Sewu Night Specta". Menjemput Impian Mendunia... penampilan kesenian lokal kolaborasi dengan musik orkestra. Dimeriahkan permainan pencahayaan lampu yg akan ditembak didinding Gunung Api Purba. Akan menjadi pertunjukan yang spektakuler. Insyaallah... semoga Barokah.

Translate

RSS Berita Terbaru

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip Tulisan

Informasi Pengunjung

  • 407,175 Pengunjung

Pengunjung Situs Ini

Dari mana saja yang Kesasar

free counters

Website

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya

Cintai Desa Kita Cintai Indonesia Kita

Hubungi YM

Liat Foto2 di FB


%d blogger menyukai ini: