Gunung Api Purba yang Menawan

Maret 6, 2012 at 8:58 pm 8 komentar


Gunung Nglanggeran
Gunung Nglanggeran

ISTIMEWA
Saat menuju kawasan tersebut, Anda akan menikmati banyak bongkahan batu ukuran raksasa di kiri-kanan jalan setapak. Memang sebaiknya Anda ke sana bukan di saat musim hujan karena jalan setapak dari tanah akan licin. Apalagi Anda juga harus menyusuri jalan terjal.Ada bangunan joglo di pintu masuk. Sawah nan hijau tampak di sekelilingnya. Tidak jauh dari situ, terdapat bangunan tower berbagai stasiun televisi yang jumlahnya cukup banyak, menambah keindahan alam. Namun, Anda tidak usah khawatir meski saat mendaki Anda akan menemukan jalan yang terjal dan berbahaya. Di jalan tersebut, sudah dipasang tali, dan para pemuda dari warga desa setempat siap membatu sekaligus memandu untuk mencapai puncak gunung yang berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Sekitar 15 menit mendaki, pos pertama tempat beristirahat sebelum menuju puncak telah tercapai. Dari ketinggian di pos pertama, hamparan hijau pemandangan telah terlihat dengan sungguh memesona. Pada pos ini, batuan andesit terlihat terjal, dan kalau musim hujan bertambah licin. Sudut kemiringan di tempat ini sekitar 60 derajat. Bagi yang ingin meneruskan hingga puncak, yakni Gunung Gedhe, dibutuhkan waktu sekitar 3-5 jam.

Bagi yang tidak sanggup, bersantai menikmati pemandangan dan berfoto-ria di pos pertama mungkin sudah lebih dari cukup. “Bagi yang ingin naik hingga puncak, jika mampu, akan mendapatkan suguhan pemandangan di puncak yang sangat indah,” kata Sugeng Handoko, pengelola objek wisata Gunung Nglanggeran, Selasa (28/2).

Tidak Sulit
Gunung Nglanggeran, yang berada di titik koordinat 7o 50,4′ 25” LS dan 110o 32,3′ 21” BT ini terletak di kawasan Baturagung di bagian utara Kabupaten Gunungkidul dengan ketinggian 200-700 mdpl, tepatnya di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, dengan jarak tempuh 22 km dari Kota Wonosari. Untuk mencapai lokasi itu, akan lebih nyaman jika Anda membawa kendaraan sendiri.

Untuk mencapai Gunung Nglanggeran tidak terlalu sulit. Dari Yogyakarta, tepatnya Stasiun Tugu, gunung itu berada sekitar 25 km menuju arah Wonosari. Setelah sampai di Bukit Patuk, Gunungkidul, tempat pemancar-pemancar televisi berada, hanya diperlukan sekitar 10 menit perjalanan hingga Desa Nglanggeran. Untuk bisa menikmati keindahan gunung api purba ini, Anda hanya dikenakan retribusi 3.000 rupiah per orang.

“Tempat ini merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan dan secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Dari hasil penelitian dan referensi yang ada, dinyatakan Gunung Nglanggeran adalah gunung berapi purba,” kata Sugeng.

Menurut dia, lokasi ini sangat cocok untuk panjat tebing, tracking, jelajah wisata, dan berkemah. Anda bisa berkemah, maksimal 10 tenda, tentu dengan tenda ukuran kecil (4-5 orang per tenda). Namun, letak tendanya agak menyebar (tidak dalam satu lokasi) karena kondisi geografis gunung ini.

Banyak wisatawan lokal, dan ada juga sesekali wisatawan asing, mengunjungi Gunung Nglanggeran untuk menikmati keindahan pemandangan. Mereka mencoba menaklukkan batu-batu besar untuk didaki. Banyak juga yang hanya melepas kepenatan seusai ujian dan kebisingan kota.

Nama Nglanggeran berasal dari kata planggaran yang bermakna setiap ada perilaku jahat pasti tertangkap/ketahuan. Ada juga yang menuturkan Gunung Nglanggeran berasal dari kata langgeng, artinya desa yang aman dan tenteram.

Mirip Wayang
Selain sebutan Gunung Nglanggeran, gunung yang tersusun dari banyak bebatuan ini disebut Gunung Wayang karena terdapat gunung/bebatuan yang menyerupai tokoh pewayangan. Selain itu, menurut kepercayaan adat Jawa, Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kiai Ongko Wijoyo dan Punokawan, yakni Kiai Semar, Kiai Nolo Gareng, Kiai Petruk, dan Kiai Bagong.

Di Gunung Nglanggeran terdapat sejumlah tempat yang disebut Gunung Kelir, Sumber Air Comberan, Gunung Gedhe, Gunung Bongos, Gunung Blencong, Gunung Buchu, Tlogo Wungu, Tlogo Mardhido, Talang Kencono, dan Pemean Gadhung. Disebut Gunung Kelir karena bentuk dari gunung tersebut menyerupai kelir dan dipercaya sebagai tempat tinggal Ongko Wijoyo dan Punokawan. Sumber Air Comberan adalah sebuah mata air yang tidak pernah mengalami kekeringan di Puncak Gunung Nglanggeran. Juga terdapat tempat pemujaan untuk mendapatkan anugerah dari Sang Pencipta bagi mereka yang meyakini untuk bisa mencapai keinginan.

Selain Sumber Comberan, terdapat tempat pertapaan untuk melakukan kegiatan ritual, prihatin. Biasanya, pada hari-hari tertentu yang diyakini memunyai nilai mistis akan berdatangan wisatawan untuk melakukan ritual tersebut. Tempat itu digemari wisatawan karena cuaca iklim yang sejuk dan terdapat tangga tataran yang dibuat pada zaman Jepang, yang dulunya juga digunakan sebagai tempat persembunyian tentara Jepang. Air di Sumber Comberan diyakini dapat membuat awet muda jika digunakan untuk mencuci muka.

Sesuai dengan sebutannya, Gunung Gedhe adalah gunung terbesar di antara gunung-gunung lain. Gunung tersebut merupakan puncak tertinggi dari Gunung Nglanggeran. Para pendaki sering menggunakan tempat itu untuk tempat istirahat dan berkemah.

Pemandangan yang luas akan terlihat dari puncak tertinggi karena posisi yang sangat strategis di tengah-tengah Gunung Nglanggeran. Puncak itu menjadi tempat kegemaran para fotografer karena bisa mengabadikan keindahan ciptaan Tuhan dari berbagai sudut pandang.

“Live in” di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba
Hidup dan belajar menjadi masyarakat desa, mengenali lingkungan, dan belajar bersama alam di Desa Nglanggeran, di tengah-tengah keindahan panorama Gunung Api Purba, akan menjadi pengalaman sekaligus pelajaran berharga bagi siapa pun, khususnya para pelajar. Untuk itulah, tidak ada salahnya jika mencoba tinggal bersama warga Nglanggeran beberapa hari, semacam live in.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan itu, antara lain menghargai budaya lokal, belajar bersama alam, menumbuhkan jiwa sosial, menuju kepribadian yang kokoh, mandiri, dan bermartabat di era globalisasi bersama masyarakat Desa Nglanggeran. Kenapa? Arus globalisasi menggelinding begitu kuat, merasuk, dan menerjang setiap sendi kehidupan masyarakat. Kenyataan itu menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perubahan paradigma dalam masyarakat, dari yang mengagungkan budaya lokal menjadi pengabdi budaya asing.

“Dengan live in di desa kami, akan dapat menumbuhkembangkan jiwa cinta budaya lokal di kalangan generasi muda, khususnya peserta live in. Tidak kalah pentingnya, memupuk kreativitas dan partisipasi serta kepedulian terhadap lingkungan,” kata pengelola Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Sugeng Handoko.

Selama di desa itu, akan dilakukan sejumlah kegiatan positif dan mendidik bagi para pelajar, antara lain paket menanam pohon dan bisa dinamai penanamnya, pelepasan ikan di sungai, dan pelepasan burung ke hutan rakyat Nglanggeran. Selama kegiatan live in, para peserta akan tinggal di sekitar kawasan ekowisata Gunung Api Purba, khususnya di tiga perdukuhan di Desa Nglanggeran, yaitu Nglanggeran Kulon, Nglanggeran Wetan, dan Gunung Butak.

“Kami juga menyediakan kegiatan outbond, antara lain jalan keliling desa, soft tracking ke Gunung Api Purba, kegiatan dengan nama uji kompak tim kamu, flying fox, rafling, panjat tebing, sepak bola lumpur, tangkap bebek dalam lumpur, dan tangkap ikan di kolam. Semua ini pasti akan menjadi kenangan indah bagi semua peserta,” kata Sugeng. b siswo

Sumber : Koran Jakarta.com detail KLIK

Tanggapan saya : Terimakasih kepada Koran Jakarta yang telah membantu kami juga dalam pengenalan kawasan kami. memang saat ini kegiatan paket wisata yang kita angkat adalah wisata pendidikan berwawasan lingkungan dengan unggulan program live in atau kalo wisatawan manca menyebutnya “home stay programe”. Insyaallah Kawasan EKowisata Gunung Api Purba dan Desa Wisata Nglanggeran akan menjadi wisata unggulan di Jogja. Amin…. Tetap Semangat dan Terus Berkarya…!!! Sugeng Handoko

Entry filed under: Kliping, Wisata Alam Gunung Nglanggeran. Tags: , , , , .

Kebun Buah Segera Dibangun di Nglanggeran Hotspot Area Gunung Api Purba

8 Komentar Add your own

  • 1. iwandhana  |  Maret 6, 2012 pukul 10:11 pm

    barusan saya dari sana hingga tengelamnya matahari

    Balas
  • 2. Pulau Tidung  |  Maret 16, 2012 pukul 7:09 pm

    Salut yah untuk warga yang tinggal di pegunungan… walaupun akses jalan sulit tapi tetap betah disana🙂
    Anak SMA harus sering2 belajar untuk live in disini

    Balas
  • 4. Iwandhana  |  Maret 23, 2012 pukul 3:39 am

    apakah akses Gunungkidul jelelek dan terjal?apakah fasilitas Gunungkidul suram? RICEK PLEASE

    Balas
  • 5. Bahqri Dixie Mygeishajogja  |  Mei 6, 2012 pukul 3:57 pm

    ya noww qu ttp sng qok jd naq wonsa….sippppp

    Balas
  • 6. Bahqri Dixie  |  Mei 7, 2012 pukul 2:38 pm

    qerennnn coeee

    Balas
  • 7. deliciousa  |  Oktober 4, 2012 pukul 8:20 pm

    kemarin lusa baru dari sini diajak teman.
    perjalanan ke atasnya sangat menarik dan pemandangan di puncak bagus banget.
    keren!!

    Balas
  • 8. Program C++ Penginapan Pasti Betah  |  Januari 5, 2015 pukul 6:09 pm

    […] PDF File Name: Gunung api purba yang menawan | gunung api purba Source: kalisongku.wordpress.com » DOWNLOAD « […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Follow IG : @GunungApiPurba

Mari Memuliakan Warisan Bumi Mensejahterakan Masyarakat

Translate

RSS Berita Terbaru

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip Tulisan

Informasi Pengunjung

  • 407,398 Pengunjung

Pengunjung Situs Ini

Dari mana saja yang Kesasar

free counters

Website

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya

Cintai Desa Kita Cintai Indonesia Kita

Hubungi YM

Liat Foto2 di FB


%d blogger menyukai ini: