Pertunjukan Wayang “Punakawan Aduh-Aduh Biyung” Akhiri Festival Equator Biennale Jogja XI

April 6, 2012 at 9:50 pm Tinggalkan komentar


Rangkaian terakhir Program Umbul-Umbul Festival Equator Biennale Jogja XI-2011 berakhir dengan penyelenggaraan pertunjukan wayang “Punakawan Aduh-Aduh Biyung” di Pendopo Kalisong Nglanggeran Gunungkidul Sabtu (31/12). Pertunjukan wayang “Punakawan Aduh-Aduh Biyung” juga merupakan rangkaian dari program Umbul-Umbul Festival Equator Biennale Jogja XI berjudul “Wayang dan Gunungan Antena”.

Dalang Mas Thoklo sedang beraksi dalam pementasan wayang “Punakawan Aduh-Aduh Biyung” di Pendopo Kalisong Nglangiran Gunungkidul, Sabtu (31/12).

Cerita wayang “wayang “Punakawan Aduh-Aduh Biyung” diciptakan secara mandiri oleh anggota Karang Taruna Bukit Putra Mandiri (BPM) dengan melakukan workshop pembuatan cerita didampingi Joned Suryatmoko, Direktur Artistik Biennale Jogja XI. Workshop pembuatan cerita dimaksudkan sebagai pemicu kreatifitas anak muda anggota karang taruna berkreasi membuat cerita secara mandiri. Pertunjukan wayang “Punakawan Aduh-Aduh Biyung” bercerita mengenai mitos gunung api Purba atau Gunung Wayang yang dibawa berhubungan dengan masa sekarang dan masa depan. “Dari tema itulah muncul ide-ide cerita dari para pemuda yang kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita utuh dengan tokoh para Punakawan, berjudul “Punokawan Aduh-Aduh Biyung,” kata Joned. Selain ikut workshop pembuatan cerita, generasi muda sekitar Gunung Purba Nglangeran Gunung Kidul ini juga mengikuti workshop pembuatan wayang dengan fasilitator dua dalang muda Jogja, Ki Catur “Benyek” Kuncoro serta Mas Toro. Para pemuda mendesain wayang, mewarnai dan merangkainya menjadi sebentuk wayang dengan karakter yang berbeda-beda seperti Semar, Bagong, Gareng, Petruk, dan Anoman. Mereka berkarya secara mandiri, mengembangkan metode pembuatan yang diajarkan oleh para fasilitator. Tak hanya sebagai pembuat wayang dan sutradara cerita, anak-anak muda ini juga terlibat sebagai lakon dalam wayang yang dipadu dengan dialog drama dan musik ini. Menurut Joned, nilai yang diangkat dalam cerita tersebut adalah sebuah cita-cita dan harapan warga desa dalam memaknai alam yang harus dihormati dengan menjaga, melestarikan dan memanfaatkan untuk kehidupan manusia. “Maka dalam kehidupan pun, warga juga saling menghormati dan bekerja sama dalam keberagaman untuk sebuah kemajuan bersama”, jelas Joned. Hal ini juga yang melatarbelakangi judul kegiatan Umbul-umbul “Wayang dan Gunungan Antena”. Joned melihat bahwa desa Nglanggeran memiliki keunikan sebab di dekat wilayah Gunung Purba tersebut banyak didirikan antena pemancar stasiun televisi sehingga menjadi ciri khas wilayah tersebut. Sugeng Handoko, sebagai perwakilan dari pengurus Gunung Api Purba Nglanggeran mengatakan bahwa kegiatan ini sangat positif untuk mengeksplorasi minat dan bakat para pemuda Nglanggeran sekaligus mengingatkan agar mereka selalu memegang teguh tradisi. “Saya senang sekali dengan kegiatan workshop yang telah diadakan sebab ada banyak bakat potensial pemuda Nglanggeran yang bisa dieksplorasi dan diasah”, kata Sugeng dalam sambutannya di Pendapa Kalisong sebelum pertunjukan dimulai. Kisah “Punakawan Aduh-aduh Biyung” ini sendiri sedikit bercerita tentang asal-muasal Gunung Purba Nglanggeran dan lakon tentang nilai tradisi. Dikisahkan, para punakawan sedang memindahkan gunung-gunung ketika Petruk tidak sengaja menjatuhkannya. Lokasi jatuhnya gunung itulah yang sekarang menjadi Gunung Api Purba Nglanggeran. Pertunjukan dibuka adegan sepasang muda-mudi yang kebablasan dalam berpacaran dan diingatkan oleh si Dalang Mas “Thoklo” Riyanto, agar mengingat kembali tentang nilai-nilai kebudayaan setempat antara lain kesantunan dan kesopanan. Dalang tak hanya memainkan wayang di atas geber, tapi ia juga berinteraksi langsung lewat candaan-candaan dengan para tokoh punakawan dan berhasil memancing tawa para penonton. Acara ditutup dengan pertunjukan kembang api yang meriah. (Jogjanews.com/joe)

Tanggapan saya:

Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dan mendampingi kami untuk bisa menampilkan pertunjukan wayang secara mandiri dan ini berkat pendampingan dari iennale Jogja XI-2011. Harapan saya kedepan nanti bisa bekerjasama lagi. Tetap Semagat dan Terus Berkarya…!!! (Sugeng Handoko)

Entry filed under: Kliping. Tags: , , , .

Tempat wajib dikunjungi di Gunung Api Purba Gunung Api Purba Bisa Untuk Internet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Follow IG : @GunungApiPurba

Persiapkan dan pastikan waktu longgar Sahabat Geopark untuk 7 Desember 2016. Akan ada penampilan "Gunung Sewu Night Specta". Menjemput Impian Mendunia... penampilan kesenian lokal kolaborasi dengan musik orkestra. Dimeriahkan permainan pencahayaan lampu yg akan ditembak didinding Gunung Api Purba. Akan menjadi pertunjukan yang spektakuler. Insyaallah... semoga Barokah.

Translate

RSS Berita Terbaru

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip Tulisan

Informasi Pengunjung

  • 407,175 Pengunjung

Pengunjung Situs Ini

Dari mana saja yang Kesasar

free counters

Website

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya

Cintai Desa Kita Cintai Indonesia Kita

Hubungi YM

Liat Foto2 di FB


%d blogger menyukai ini: